LPM INSTITUT

BACA, TULIS, LAWAN!

TABLOID

Intransparansi Pemilihan Rektor UIN Jakarta

Ditulis: Moh. Hanifudin Mahfuds

Selasa 17 Oktober lalu, kampus tampak sepi. Hanya sedikit mahasiswa yang lalu lalang di sekitar kampus. Maklum sejak tiga hari sebelumnya perkuliahan telah diliburkan untuk menyambut perayaan hari raya Idul Fitri 1427 H. Sehingga sebagian besar mahasiswa telah mudik ke kampung halamannya. Namun di tengah kebisuan suasana kampus itu, diam-diam sebuah perhelatan besar digelar di Auditorium Utama. Perhelatan itu tak lain adalah Pemilihan Rektor (Pilrek) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk periode 2006-2010.

Pilrek dilakukan melalui Sidang Senat Universitas yang dipimpin langsung oleh Prof Dr Azyumardi Azra. Sebanyak 80 anggota senat universitas mengikuti pemilihan itu. Setelah melalui proses pemilihan akhirnya Prof Dr Komarudin Hidayat, yang juga menjabat Direktur Program Pascasarjana terpilih sebagai Rektor untuk periode 2006-2010. Komarudin Hidayat mendapat dukungan 61 suara. Sementara dua calon lainnya yakni Prof Dr Masykuri Abdillah dan Prof Dr Suwito masing-masing mendapatkan 16 dan 2 suara. Satu suara dinyatakan tidak sah.

Digelarnya Pilrek di tengah libur perkuliahan tanpa publikasi yang masif dalam bentuk pengumuman baik melalui surat maupun spanduk seperti perhelatan lainnya membuat gerah sebagian besar civitas akademika. Inayatul Chusna, dosen Bahasa dan Sastra Inggris ketika ditemui INSTITUT beberapa waktu lalu, mengaku kecewa, sebab ia tidak mengetahui kepastian waktu dan tanggal pelaksanaan Pilrek. Inayat terkejut ketika mendengar pemilihan rektor berlangsung pada hari itu (17/10). Ia menyesalkan tidak adanya publikasi kepada dosen. “Seharusnya para dosen lebih mengetahui informasi tentang pemilihan rektor dan ada inisiatif dari pihak panitia pilrek untuk mempublikasikannya”, ungkapnya.

Ketidakpuasan terhadap pelaksanaan Pilrek juga disampaikan Abdul Rasyid, mahasiswa Jurusan Tafsir Hadist semester lima Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF). “Tidak adanya publikasi pemilihan rektor menyebabkan kejumudan demokrasi di kampus,” tegasnya. Padahal kampus kita, lanjut Rasyid, dikenal sebagai laboratorium demokrasi. Hal ini dicerminkan dengan Pemira (Pemilihan Umum Raya) untuk memilih para Presiden BEM dan anggota DPM. “Sayang sekali ditingkatan rektorat justru anti demokrasi,” sesalnya.

Menanggapi kekecewaan terhadap proses Pilrek yang dianggap tidak transparan dan tanpa publikasi, Prof Dr Armai Arief, Purek Bagian Kemahasiswaan menyatakan publikasi Pilrek telah dilakukan dengan mengirim surat edaran ke setiap fakultas. Bahkan menurut, pria asal Sumatera Barat ini, surat edaran tersebut telah ditempel di setiap Mading fakutas. “Untuk soal publikasi, kami dari panitia pengarah sudah mempublikasikan pemilihan rektor ini di masing-masing fakultas. Surat edaran tersebut sudah kami sampaikan bahkan ditempel di mading setiap fakultas,” tegasmya.

Pria yang akrab disapa Armai ini memandang publikasi merupakan sebuah keharusan karena Pilrek harus terbuka untuk seluruh civitas akademika. Namun dari pantaun INSTITUT di lapangan, tak tampak pengumuman yang di tempel di Mading fakultas-fakultas, apalagi spanduk, tak selembar spanduk pun yang mengumumkan diselenggarakannya Pilrek. Jika memang ada puiblikasi lalu kenapa mahasiswa dan dosen tidak mengetahui waktu pelaksanaan Pilrek? Armai berkelit bahwa itu sudah bukan tanggungjawab panitia lagi, karena setelah panita mengirim surat edaran ke tiap fakultas, maka selanjutnya menjadi tanggungjawab fakultas masing-masing.

Benarkah publikasi melalui surat edaran itu sampai di tingkat fakultas? Untuk mamastikannya INSTITUT mengkroscek ke beberapa fakultas. Masing-masing di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH). Dekan FITK Prof Dr Dede Rosyada saat dikonfirmasi seputar publikasi melalui surat edaran dari panitia Pilrek ke FITK, mengaku tidak mengetahui. “Saya belum tahu soal surat dari panitia pemilihan rektor yang harus dipublikasikan di fakultas,” papar Dede di ruang kerjanya, Jumat (10/11) .

Namun meski tak mengetahui surat edaran panitia, pihaknya tetap melakukan sosialisasi meskipun secara terbatas. Dede mengemukakan, sebagian mahasiswa tlah mengetahui proses pemilihan rektor, melalui publikasi yang dilakukan Rapat Senat Fakultas. “Kami undang perwakilan mahasiswa dari BEM Fakultas dalam rapat senat. Untuk tahun ini, kita bahkan sudah menyelenggarakan tiga kali Rapat Senat Fakultas,” terangnya.

Sementara menurut Dekan FAH Abdul Chaer menegaskan proses pemilihan rektor yang tertutup publikasinya sudah menjadi keputusan Menteri Agama dan sesuai dengan statuta yang berlaku. Di FAH sendiri publikasi hanya dilakukan di tingkatan senat melalui rapat senat fakultas. Terkait dengan proses yang hanya berlangsung di tingkatan senat, bagi Chaer sudah sangat demokratis. “Publik sudah mengetahui hal ini melalui berbagai macam media,” paparnya.

Terkait dengan publikasi di tingkatan mahasiswa, Syukron Jamal Presiden BEMU mengaku baru mengetahui waktu pemilihan rektor tiga hari sebelum pelaksanaan. Seperti diketahui, Pilrek kali ini berbeda dengan Pilrek periode sebelumnya. Jika dulu unsur mahasiswa dilibatkan yaitu DPMU dan BEMU, tapi kali ini berdasarkan peraturan Menteri Agama No. 45 mahasiswa tidak dilibatkan. Ia menyesalkan karena rektor pada dasarnya bekerja untuk mahasiswa. Namun demikian yang lebih disesalkan adalah minimnya publikasi. “Meski mahasiswa tidak diikutsertakan dalam pilrek saat ini tapi yang dipermasalahkan oleh BEMU adalah minimnya publikasi terhadap mahasiswa,” tegas mahasiswa FITK ini. [Laporan: Ghulam Mubarak, Ali Masykuri, Agnes, Dwi setyadi, Sulhan, Susi Fatimah]

Rekor MURI Kado Emas Bagi HUT UIN Jakarta

Dimuat pada 08.07.2007

Tiga hari dua malam, 50 calon wisudawan dari berbagai fakultas yang ada di UIN Jakarta, bergantian membacakan skripsi masing-masing di atas podium berukuran ramping yang sengaja di pasang tepat di depan Lobi Perpustakaan Utama. Di sampingnya, seorang lagi, Sholla Taufik namanya, duduk membungkuk di belakang meja yang terletak di sisi kiri podium.

Penulis: Moh. Hanifudin Mahfuds

Tiga hari dua malam, 50 calon wisudawan dari berbagai fakultas yang ada di UIN Jakarta, bergantian membacakan skripsi masing-masing di atas podium berukuran ramping yang sengaja di pasang tepat di depan Lobi Perpustakaan Utama. Di sampingnya, seorang lagi, Sholla Taufik namanya, duduk membungkuk di belakang meja yang terletak di sisi kiri podium. Pensil di tangannya tak bisa diam, benda itu menari kian kemari, meninggalkan jejak berlembar-lembar kalimat bertuliskan huruf Arab.

Sholla, demikian calon wisudawan dari Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) itu akrab disapa, telah 4 jam menyalin skripsi kebanggaannya ke atas kertas bergaris berukuran 9 x 6 cm. Wajahnya mulai dibasahi keringat yang mengucur pelan dari atas belahan rambut di kepalanya. Spanduk bertuliskan “Rekor MURI Pembacaaan 50 Skripsi dan Penulisan Skripsi Terkecil; Kado Emas Persembahan Cinta Wisudawan Angkatan 68” menjadi background yang menjawab rasa penasaran mahasiswa yang melintas di depannya.

Ya, mereka sedang berihtiar untuk memecahkan dua Rekor Dunia dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Kedua rekor itu, nantinya secara tulus akan diserahkan kepada almamater tercinta yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan. Mereka sengaja hendak menggondol dua Rekor MURI sekaligus, karena dua rekor itu akan dijadikan sebagai kado persembahan cinta saat acara puncak HUT 50 Tahun ADIA-IAIN-UIN Jakarta, Sabtu 30 Juni lalu.

Benarlah, ihtiar mereka tak sia-sia. Satu setengah jam menjelang acara puncak peringatan HUT 50 Tahun ADIA-IAIN-UIN Jakarta, mereka telah merampungkan pembacaan 50 skripsi dalam waktu yang tepat seperti dijadwalkan yakni selama 50 jam. Sementara Sholla, telah lebih dahulu merampungkan penyalinan skripsinya yang berjudul “Insidad Bab al-Ijtihad: Dirasat Muqoronah Baina al-Ghazali wa al-Syathibi ‘an-Syuruth Sihhat al-Ijtihad,” selama 16 jam. Skripsi mungil itu berjumlah 50 halaman.

“Serba 50, luar biasa hebat, mulai dari jumlah skripsi yang dibacakan, waktu untuk membacanya, dan jumlah halaman skripsi terkecil yang ditulis. Tepat dengan usia lembaga ini 50 tahun. Ini satu-satunya di dunia karena itu layak mendapatkan rekor dari MURI,” demikian komentar Pendiri MURI Jaya Suprana, saat memandu penganugerahan Dua Rekor Dunia MURI itu.

Angka-angka 50 itu bukan kebetulan belaka. Sam’ani, promotor kegiatan itu, telah merencanakan sebelumnya. “Serba 50, memang sengaja dipilih sebagai salah satu titik unik dari kegiatan tersebut,” kata Mantan Presiden BEM UIN Jakarta tahun 2003 ini. Sebenarnya, bukan hanya dua kegiatan itu yang direncanakan hendak disertakan dalam pemecahan rekor MURI. Bahkan masih terkait dengan urusan cocok-mencocokkan angka, salah satu rekor yang diajukan semula, kata Sam’ani, yaitu Pawai 1957 payung dari Bundaran Hotel Indonesia, hingga Istana Negara. Angka 1957 sendiri merupakan tahun didirikannya ADIA, cikal bakal IAIN yang kemudian berganti nama menjadi UIN tahun 2002 lalu. Sayang, acara itu tak jadi digelar, karena mendadaknya persiapan panitia.

Memang, jika diukur dari segi persiapan, acara pemecahan dua rekor yang telah berhasil itu pun direncanakan dengan sangat mendadak. Ide itu, datang dari Sam’ani dan Ahmad Diki Sofyan, keduanya mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF). Obrolan ringan dua sahabat itu, berkembang menjadi wacana yang luas di kalangan calon wisudawan dari delapan fakultas. Pendek cerita, mereka sepakat mengajukan ajang pemecahan sembilan rekor ke MURI. Tapi, MURI hanya menerima 7 kategori.

Mendapat lampu hijau dari MURI, mereka pun kemudian melaporkan keinginannya kepada Ketua Panitia HUT 50 Tahun ADIA-IAIN-UIN, Dr. Sudarnoto Abdul Hakim. Gayung pun bersambut, Sudarnoto yang juga Pembantu Rektor Bidang Pengembangan Lembaga, sepakat dengan ide para calon wisudawan angkatan 68 itu. Sejumlah persiapan pun dilakukan. Panitia ulang tahun menyuntikkan dana, sementara tim calon wisudawan menyiapkan secara teknis.

Kamis, 28 Juni lalu, panggung pun disiapkan di depan Perpustakaan Utama, dengan pencahayaan agak pendar, panggung terlihat sederhana, jika dilihat menjelang malam. Desainnya minimalis, hanya mengandalkan kain hitam dan spanduk serta beberapa bunga yang ditepinya. Di pojok kiri dipasang toga berukuran besar yang memayungi meja tempat menulis skripsi terkecil di dunia itu. Sementara tempat duduk juri dari MURI dan calon wisudawan yang mengantri untuk membacakan skripsi, dipayungi tenda berukuran 3 x 4 meter.

Tapi, dari panggung nan sederhana itu, nama kampus UIN Jakarta diharumkan sebagai pemecah Rekor Dunia Pembacaan 50 Skripsi Secara Maraton selama 50 Jam dan Penulisan Skripsi Terkecil di Dunia dengan ukuran 9 x 6 cm. Rektor UIN Jakarta, Prof Dr Komaruddin Hidayat, pun yang sempat menengok berlangsungnya pembacaan skripsi di malam pertama, mengungkapkan kekagumannya atas kreativitas 50 calon wisudawan angkatan 68 itu.

“Saya merasa tersanjung dengan persembahan dari para calon wisudawan angkatan 68 ini, yang bertepatan dengan peringatan 50 Tahun ADIA-IAIN-UIN. Mereka telah meneladani sikap akademisi yang menghargai prestasi intelektual dan mengkampanyekan anti plagiarisme,” puji Komaruddin seperti ditirukan Promotor Kegiatan itu, Sam’ani kepada UINJKT Online.

Kunjungan rektor ke tengah tempat berlangsungnya acara tersebut, jelas membesarkan hati para calon wisudawan. “Pak Komar memang sangat peduli dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan dan intelektual semacam ini. Beliau tahu bagaimana menghargai prestasi dari mahasiswanya,” ungkap Rasyid salah seorang calon wisudawan dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) yang turut membacakan skripsinya.

Dua rekor MURI yang berhasil disabet para calon wisudawan itu pun diserahkan secara langsung oleh Direktur MURI Aylawati Sarwono yang dipandu Pendiri MURI Jaya Suprana kepada Rektor UIN Jakarta Komaruddin di depan 50 pembaca skripsi dan seorang penulis skripsi terkecil tersebut. Dalam sambutannya Jaya Suprana menyampaikan apresiasi kepada UIN Jakarta atas usahanya memecahkan Rekor Dunia MURI. Menurutnya Rekor MURI untuk kategori ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di dunia, sehingga layak mendapatkan Rekor Dunia.

Ketertarikan MURI terhadap kreativitas dari para calon wisudawan itu, karena mempromosikan nilai-nilai pendidikan. Nilai-nilai tersebut seperti kejujuran akademis, kesungguhan, orisinalitas gagasan, dan untuk menghindari plagiarism. Jaya Suprana berharap rekor ini dapat menjadi teladan bagi para mahasiswa di seluruh Indonesia, untuk meningkatkan prestasi, kreativitas dan sportivitas.

Piagam Rekor MURI itu kini telah menjadi salah satu pengukir sejarah selama Peringatan Ulang Tahun UIN Jakarta. Tapi apalah artinya dua lembar sertifikat, jika kualitas pendidikanya tak berbanding lurus dengan image building UIN Jakarta di tengah masyarakat. Seyogyanya, penghargaan itu jadi sentilan yang mengingatkan kita akan pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan di kampus pembaharu ini.

FDK Terus Berbenah Diri

Seiring dengan Ulang Tahun Emas ADIA-IAIN-UIN, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) pun bertambah usia, kini FDK menginjak usia yang ke-17. Beragama acara digelar untuk memeriahkannya mulai dari perlombaan tumpeng, futsal, cerpen, presenter, busana muslimah, hingga pemilihan mahasiswa berprestasi. Ibarat manusia, FDK kini sedang dalam masa transisi dari remaja ke dewasa. Meski masih sweet seventeen, FDK telah menoreh sejumlah prestasi baik akademis maupun non akademis. Untuk mengetahui perkembangan FDK, Moh. Hanifudin Mahfuds dari UINJKT Online berbincang dengan Dr. Murodi MA, di ruang kerjanya, Rabu (13/6). Berikut petikannya.

Bisa Anda jelaskan sekilas sejarah Fakultas Dakwah dan Komunikasi?

Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) awalnya merupakan Jurusan Dakwah (JD) di Fakultas Ushuludin (FU) IAIN Jakarta. Pada tahun ajaran 1990/1991 JD berubah statusnya menjadi Fakultas Dakwah dengan membuka satu jurusan yaitu Penyiaran dan Penerangan Agama. Dua tahun setelahnya, pada 1992 menambah satu jurusan, yaitu Bimbingan Penyuluhan Masyarakat. Kedua jurusan tersebut pada perkembangannya berganti nama menjadi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI).

Pada tahun ajaran 1997/1998 FDK membuka Jurusan Manajemen Dakwah. Setahun kemudian 1998/1999, membuka Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam dan Program Non Reguler (Ekstensi). Tahun 2003/2004 melalui kerjasama dengan McGill University FDK membuka Konsentrasi Kesejahteraan Sosial, dan pada 2004/2005 FDK kembali membuka Konsentrasi Jurnalistik.

Sejak mula berdiri hingga kini, setidaknya empat dekan telah dan sedang memimpin FDK. Mereka adalah Prof Dr H Aqib Suminto (1990-1994), Prof Dr Moh Ardani (1994-1997), Prof Dr M Yunan Yusuf (1997-2005), dan saya sendiri (Dr Murodi MA) (2005-sekarang).

Peringatan Ulang Tahun FDK berbarengan dengan Ulang Tahun Emas ADIA-IAIN-UIN dan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), ini suatu kebetulan atau memang sengaja dalam rangkaian Ulang Tahun UIN?

Peringatan Ulang Tahun FDK memang masih dalam rangkaian Ulang Tahun UIN. Kalau UIN telah mencapai 50 tahun, FDK baru menginjak 17 tahun (sweet seventeen). Jika dibandingkan dengan FITK tentu saja, usianya masih muda. Ibarat remaja, FDK sedang dalam masa puber atau transisi dari anak-anak ke dewasa. Kami berharap di usia yang ke-17, FDK bisa lebih maju lagi, semakin meningkatkan kualitasnya. Tidak hanya kualitas SDM dosen, tapi juga SDM di tingkat adminisrasi agar pelayanan akademis mahasiswa dapat berjalan secara maksimal.

Usia 17 tahun memang usia yang muda, tapi bukan berarti tanpa prestasi. Bisa Anda jelaskan perkembangan prestasi yang telah capai FDK?

Prestasi yang paling konkrit adalah perubahan status yang diiringi dengan perubahan nama. Perubahan status di sini yaitu dari institut ke universitas yang juga mengubah nama Fakultas Dakwah menjadi Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Dari sisi akademis, saya melihat sejak awal hingga kini telah banyak perkembangan, terutama kurikulum. Kurikulum awal yang dibuat dari 1990 sebagai embrio untuk mengembangkan kurikulum terus dikembangkan. Tahun 1994 kurikulum dikembangkan. Kemudian tahun 1998, 2002, dan 2004 juga terus disesuaikan dengan perkembangan kontemporer.

Untuk saat ini, saya kira sudah sangat lumayan. Karena sudah mengarah ke tingkat kualitas yang lebih baik dari kualitas sebelumnya. Dalam mengubah kurikulum tersebut, kami mengadopsi kurikulum berbagai universitas di Indonesia. Misalnya jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), kurikulumnya kami adopsi dari berbagai perguruan tinggi lain yang ada fakultas atau jurusan komunikasinya. Demikian juga dengan jurusan lain, kami kembangkan dengan merujuk pada kurikulum di UIN dan kampus lain. Kurikulum Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), kami mengambil dari Fakultas Psikologi di kampus lain. Kemudian Manajemen Dakwah (MD), kami ambil dari jurusan manajemen di Fakultas Ekonomi di kampus lain seperti UI. Pada intinya prestasi-prestasi akademis dari segi pengembangan kurikulum sudah cukup bagus ketimbang pada periode awal ketika saya baru mengajar tahun 1990-an. Meski sekarang kita sudah punya kurikulum yang baku, tapi ke depan kami akan terus me-review terutama untuk mengikuti perkembangan pasar dan kebutuhan mahasiswa baru.

Selain dari segi akademis, perkembangan apalagi yang signifikan?

Tentu saja dari segi infrastruktur, kita telah berkembang jauh sekali. Waktu baru berdiri FDK menempati gedung pusat bahasa lantai dua, dekat tarbiyah sekarang, dulu masih satu kelas. Kemudian dengan semakin banyaknya mahasiswa kita diminta nempati lokal di fakultas ushuludin, kemudian ketika pembangunan gedung, terus pindah ke bekas pascasarjana. Sehingga kegiatan belajar selama itu terganggu. Jadi dari segi infrastruktur kita sudah sangat maju, seiring dengan perubahan status IAIN ke UIN, termasuk fakultas lain. Perekembangan lainnya yaitu dari segi peralatan untuk proses belajar mengajar, dulu masih pakai kapur seperti di SD. Tapi kini sudah menggunakan spidol dan bahkan sudah menggunakan OHP, dan bahkan infocus. Itu kemajuan dari segi infrastruktur.

Selama kepemimpinan Anda prestasi apa yang bisa dibanggakan?

Selama kepemimpinan saya, kemajuannya adalah dari segi menjamurnya lembaga otonom. Kita telah memiliki beberapa lembaga otonom seperti Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM), Pusat Pengkajian Kesejahteraan Sosial (PPKS), Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah (P3ID), Bina Masyarakat Mandiri, dan Pusat Pengembangan dan Kesehatan Masyarakat (PPKM) yang merupakan kerjasama FDK dengan FKIK, FEIS dan FSH.

Sejak awal saya memang berkeinginan agar pengembangan FDK tidak hanya dibebankan kepada dekanat, tapi semua sivitas akademika juga berperan dalam mengembangkannya. Karena itu saya menyediakan kepada dosen-dosen yang tidak terlibat secara struktural di fakultas, sebuah lembaga otonom, agar mereka dapat berperan langsung dalam mengembangkan FDK. Kontribusi inilah yang kita perlukan. Saya berkeinginan agar teman-teman baik dosen maupun mahasiswa mempunyai peran yang sama untuk sama-sama mengembangkan fakultas. Karena saya sadar sendiri tidak bisa tanpa bantuan dari seluruh sivitas akademika FDK.

Terkait dengan kegiatan mahasiswa, seberapa besar dukungan yang Anda berikan?

Saya sangat mendukung kegiatan-kegiatan mahasiswa FDK. Saya sendiri bangga dengan banyaknya kegiatan yang mereka selenggarakan. Kegiatan-kegiatan tersebut telah mengharumkan nama FDK sehingga mendapat respons dari dari berbagai pihak termasuk pimpinan universitas. Mereka memuji aktivitas mahasiswa FDK yang sangat padat. Hampir setiap hari selalu ada kegiatan. Ini membuktikan bahwa teman-teman mahasiswa juga punya andil dalam mengembangkan FDK sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Selama kepemimpinan Anda, adakah keinginan Anda untuk FDK yang belum tercapai?

Saya melihat banyak yang belum dicapai. Langkah strategis pertama yang sudah saya lakukan adalah melakukan review terhadap kurikulum. Itu yang sudah saya lakukan, tapi masih perlu disempurnakan. Kemudian yang kedua saya berharap sivitas akademika dapat memainkan perannya dalam mendukung program yang saya usung tadi. Ketiga, saya juga membuka diskusi dengan teman-teman mahasiswa jika ada persoalan agar bisa diselesaikan, tidak justru di belakang, karena kita lembaga akademik sehingga persoalan yang ada mesti diselsesaikan secara demokratis.

Bagaimana dengan kualitas alumni (output) FDK?

Output tidak lepas dari proses pembelajarannya. Kita menyadari proses pembelajaran belum optimal. Untuk alumni saya melihat sebenarnya setiap orang punya potensi. Nah, pembelajaran di fakultas adalah salah satu cara untuk membuat mereka pintar dan bermanfaat. Sebenarnya kalau kita lihat output dari FDK sudah banyak yang bekerja di berbagai media massa cetak dan elektronik. Problemnya fakultas belum membentuk career office. Nah saya berharap melalui career office yang akan kita bentuk ke depan, alumni-alumni FDK yang potensial dapat ditempatkan di lembaga-lembaga yang menjadi jaringan kita.*(Mus/ed) [source: uinjkt online]

Komaruddin: Penting Civic Education Bagi Penyelesaian Problem Sosial

Dimuat pada 07.06.2007

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menilai pentingnya pendidikan kewargaan atau civic education di perguruan tinggi agama Islam menyusulnya banyaknya persoalan yang dihadapi Indonesia belakangan ini, seperti menguatnya fundamentalisme agama, anarkisme, sekularisme, dan sukuisme sebagai konsekuensi pluralistas bangsa.

Penulis: Moh Hanifudin Mahfuds

Jakarta, UINJKT Online – Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menilai pentingnya pendidikan kewargaan atau civic education di perguruan tinggi agama Islam menyusulnya banyaknya persoalan yang dihadapi Indonesia belakangan ini, seperti menguatnya fundamentalisme agama, anarkisme, sekularisme, dan sukuisme sebagai konsekuensi pluralistas bangsa.

Penilaian itu diungkapkan Komaruddin saat memberikan sambutan pembukaan Workshop Pendidikan Kewargaan (Workshop on Civic Education) bagi Dosen Perguruan Tinggi Agama Islam se-Indonesia. Acara itu digelar Indonesian Center for Civic Education (ICCE) UIN Jakarta dengan dukungan The Asia Foundation. Sedianya acara berlangsung selama sepuluh hari (5-14/6), di Pusdiklat Depsos Jakarta Selatan.

Hadir pada kesempatan itu Direktur Eksekutif ICCE Dra Farida Hamid M Pd dan Pembantu Dekan Bidang Administrasi Umum Fautlas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Drs Abdul Razak M Si.

Komar menegaskan, untuk mengatasi problem pluralitas bangsa, demokrasi merupakan pilihan terbaik dibanding sistem lain. Meski demokrasi tidak bisa berlaku disembarang tempat, tapi disadari sistem tersebut memungkinkan perbaikan-perbaikan dan kritik terus-menerus bagi sebuah bangsa.

“Demokrasi ibarat benih, ia tidak bisa tumbuh disembarang tempat, kalau tanahnya tidak subur dan iklimnya tidak mendukung, maka benih itu tidak akan tumbuh. Begitu demokrasi. Karenanya demokrasi harus disesuaikan dengan konteks wilayah atau negara itu sendiri, dalam hal ini Indonesia,” jelas Komar.

Demokrasi yang dapat diterapkan di Indonesia adalah sistem yang disertai penegakan hukum (law enforcement) agar mendukung terwujudnya good and clean government.

Komar mengharapkan, peserta worksop dapat bersama-sama menjaga keutuhan, membenahi, dan mencintai rumah bangsa Indonesia. Upaya itu dapat dilakukan peserta dengan memberikan pencerahan kepada mahasiswa di masing-masing PTAI melalui program pengajaran Civic Education.

Workshop Civic Education merupakan rangkaian kegiatan Program Pengembangan Civic Education di PTAI. Acara ini bertujuan mencetak tenaga-tenaga pengajar Pendidikan Kewargaan yang siap menjalankan fungsinya sebagai dosen dan bagian dari civic community dan memiliki tanggungjawab serta komitmen menumbuhkan pendidikan itu di PTAI.

Workshop yang diikuti oleh puluhan peserta dari daerah itu akan membahas sejumlah materi, di antaranya paradigma Pendidikan Kewargaan di PT, peran strategis PTAI dalam pengembangan pendidikan demokrasi, HAM dan civil society, Pendidikan Kewargaan sebagai alternatif pembelajaran demokrasi, HAM dan civil society, membangun civilized society di Indonesia, identitas nasional, dan multikulturalisme, mempertegas otonomi daerah mewujudkan good governance, memperkuat konstitusi Indonesia, model pembelajaran dan penilaian berbasis portofolio dan microteaching.*(Mus/ed)

6 Komentar »

  1. Pilrek harus terbuka. buat apa belajar demokrasi.

    Komentar oleh lpminstitut | November 21, 2006 | Balas

  2. Piuuhh….
    Akhirnya TABLOID INSTITUT jadi juga, setelah perjalanan panjang melalui jalan berliku yang penuh onak dan duri. Terkadang dihiasi bunga2 liar diperjalanan, sempat merampas perhatian walau sejenak, dan sempat melukai meski tergores. Tapi terlepas dari semua itu, perjalanan yg baru saja lewat itu adalah dinamika yg mau tidak mau harus kita nikmati, dan menjadi sebuah konsekuensi sebuah perjuangan. Tetap menulis kawan, untuk sebuah informasi yg menjadi hak kontrol masyarakat.

    Komentar oleh Dwi Setiyadi | November 29, 2006 | Balas

  3. apa agenda 2008 ini? targetnya apa mas2???

    Komentar oleh tata septayuda | Februari 26, 2008 | Balas

  4. Semoga LPM Institut Lebih berkembang dan Mengedepankan Informasi Terkini yang bermanfaat bagi semua.
    Ada informasi, Prodi Muamalat akan mengadakan Studium General dan Bedah Buku “Bank and Financial Institution Management: Conventional & Sharia” Senin, 3 Maret 2008 di Fak. Syariah dan Hukum,Lt.2.Pembicara: Prof.Veithzal Rivai, MBA (Penulis), Bpk. Mulia Siregar,dan Prof.Dr.Amin Suma, MA. Ada juga bazar bukunya. Semoga bermanfaat.

    Komentar oleh siti solihah | Februari 29, 2008 | Balas

  5. Di tengah merebaknya isu sekuler yang menerpa UIN di masyarakat, image apa yang harus dikembangkan, agar kepercayaan amsyarakat terhadap UIN tidak rapuh?

    Komentar oleh Masran | Juni 11, 2008 | Balas

  6. ass,war,wab. mohon dikonfirmasikan kepada ketua senat atau perwakilan senat yang ada di fakultas dakwah dan komunikasi.untuk membangun hubungan serta keterbukaan dengan UIN / iain se-indonesia supaya kita di fakultas dakwah lebih memperbesar jaringan….lo bisa facebook bem dakwah dan komunikasi di kirim ke alamat ini..alamat fecebook. hamdansamawa@gmail.com

    Komentar oleh HAMDAN | Oktober 14, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: