LPM INSTITUT

BACA, TULIS, LAWAN!

PROPESA NEWS

FUF Pencetak Intelektual Muslim

Gedung FUF, INSTITUT News – Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) Dr Amin Nurdin menegaskan kepada mahasiswa baru agar mahasiswa konsisten dengan pilihannya masuk di FUF. Konsistensi dan kesungguhan harus dibuktikan dengan belajar dan giat membaca berbagai literatur pemikiran Islam. Karena mahasiswa FUF akan dididik menjadi calon-calon intelektual muslim.

Penegasan itu disampaikan Amin di depan 230 mahasiswa baru FUF yang mengikuti pembukaan kegiatan Program Pengenalan Studi dan Almamater (Propesa) di Auditorium FUF, Kamis (30/8).

Amin menambahkan, jalur intelektual sudah semestinya menjadi pilihan setiap mahasiswa yang masuk FUF. Karena berbagai jurusan yang dibuka mulai dari Aqidah Filsafat hingga Sosiologi Agama tak terlepas dari dunia intelektual. Mahasiswa FUF disiapkan untuk menjadi pemikir dan konseptor, bukan sebagai skrup-skrup di perusahaan.

Selain memperbanyak referensi bacaan, untuk menjadi intelektual, lanjut Amin, juga harus rajin menulis. Melalui tulisan yang dipublikasikan di jurnal ilmiah atau media massa nasional mahasiswa berlatih untuk menganalisis berbagai problem yang dihadapi masyarakat dan memberikan alternatef solusinya.

Untuk menstimulus gairah menulis mahasiswa baru, Amin berjanji akan memberikan hadiah kepada mahasiswa yang berhasil menulis di media dan surat kabar. Lebih lanjut Amin juga menghimbau agar tidak ragu-ragu dengan fakultas, tidak menjadikan FUF sebagai kedua ataupun ketiga. Tetapi sebagai pilihan pertama dengan tekad menjadi pemikir atau intelektual.

Mendengar motivasi dari dekan, para peserta Propesa FUF tampak antusias. Dengan berbagai asesoris yang melekat di pakaian mereka, seperti peci, tas, dan bunga mawar, mereka sesekali meneriakkan yel-yel dan tepuk tangan.

Mahasiswa Calon Pemimpin dan Pemikir Masa Depan

Gedung FUF, INSTITUT News – Mahasiswa merupakan calon pemimpin dan pemikir masa depan yang akan menggantikan para pendahulunya. Seorang pemimpin dan pemikir yang sukses memiliki kapabilitas kepemimpinan dan intelektual yang mumpuni. Karena itu, pemikir masa depan disiapkan melalui kaderisasi intelektual baik di kelas maupun di organisasi.

Hal itu disampaikan Guru Besar Filsafat Islam UIN Jakarta, Prof Dr Mulyadhi Kartanegara, dalam acara seminar Reformulasi Gerakan Mahasiswa Islam di depan ratusan mahasiswa baru Fakultas Ushuludin dan Filsafat (FUF) Kamis siang (30/8) di Auditorium FUF.

Sebagai bagian dari fase kehidupan, masa studi merupakan fase di mana mahasiswa mencari dan membangun kapabilitas hidup (life skill) mereka. Para pemimpin dan pemikir besar masa lalu telah memberi contoh kepada generasi sekarang bahwa menjadi pemimpin dan pemikir besar adalah mungkin bagi siapa saja. Syaratnya mereka mau dan sungguh-sungguh belajar di FUF.

“Menjadi pemimpin dan pemikir besar bukan hanya hak orang dulu saja, akan tetapi kita juga berhak mendapatkannya dan untuk menjadi pemikir dan filosof lebih mungkin di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat,” papar peraih doktor dari Chicago University AS ini.

Selain soal kepemimpinan dalam kesempatan itu Mulyadi juga mengulas prestasi saintis Muslim. Menurutnya Islam tidak hanya mengurusi masalah keagamaan saja tetapi juga aspek-aspek lain seperti sains. Hal itu terbukti dengan banyaknya pemikir Islam yang berhasil menjadi pelopor dalam sains, seperti Nasiruddin At-Tusi, Alkindi, dan Alkhawarizmi.

Di masa lalu Islam pernah jaya dan menjadi guru bagi peradaban-peradaban lain di dunia termasuk Barat. Namun, karena terjebak dalam politik, akhirnya dimensi sains Islam menjadi terpinggirkan dan diambil alih oleh Barat. Karena itu, Mulyadi mengharapkan mahasiswa baru FUF lebih memilih jalur intelektual dibanding politik.

Dalam kesempatan itu, Mulyadi juga menjelaskan keberadaan UIN Jakarta yang belakangan sering disoroti sebagai sarangnya liberalisme agama. Mulyadi menilai hal itu hanya isu yang sengaja dikompor-kompori oleh pihak-pihak tertentu. Seandainya ada dosen yang berfikiran liberal itu tidak mewakili dosen secara keseluruhan, tapi pendapat pribadinya. Jadi tidak bisa dipandang secara general karena dosen-dosen pun berbeda-beda pemikirannya.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: