LPM INSTITUT

BACA, TULIS, LAWAN!

Universitas Riset Hanya Mimpi

Kampus UIN, INSTITUT- Gaung universitas riset yang dicanangan UIN Jakarta telah terdengar di kampus ini. Sejak empat tahun yang lalu, slogan itu terpampang di kampus ini. Entah benar-benar telah merasa mampu atau hanya karena tak mau kalah adu gengsi dengan kampus lain di Indonesia, yang juga punya program serupa, sehingga tahun 2010 UIN Jakarta dengan publikasi yang terpampang di balihonya merasa optimis akan mencapai target tersebut, meskipun dengan mimpi.

Namun jika kita mencoba menengok kembali keberadaan UIN Jakarta saat ini, rasanya rencana itu masih jauh dari realita yang ada. Dalam arti pada tahun yang ditentukan, kampus tercinta ini masih belum sanggup menjadi Universitas Riset sebagai implementasi dari World Class University. Mengingat minimnya sarana dan pra-sarana yang ada. Terlebih SDM kampus Islam ini masih sangat kurang memadai. Sebagaimana diungkapkan oleh Dra. Tati Hartimah, MA selaku ketua Pusat Studi Wanita (PSW), sebuah lembaga non-struktural UIN Jakarta yang bergerak di bidang kajian sosial dan keislaman yang berwawasan gender. Dalam komentarnya, Tati mengatakan bahwa untuk menjadi universitas riset, UIN Jakarta masih jauh dari kesiapan. Selain itu, untuk menuju kearah itu, dibutuhkan SDM yang berkualitas, program mengajar yang berbasis riset serta diiringi perilaku manajemen yang rapih. Kita juga harus sadar diri, bagaimana SDM dan manajemen kita saat ini.

Sementara itu Andi Faisal Bakti, Ph.D, pakar komunikasi sekaligus ketua Pusat Pengkajian dan Komunikasi (P2KM). Salah satu lembaga non-struktural Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Mengatakan hal serupa, menurutnya UIN Jakarta untuk masa sekarang masih jauh dari layak untuk menjadi universitas riset idaman itu. Andi juga menambahkan, universitas riset harus mempunyai perpustakaan dan laboratorium yang berstandar internasional. Dosen-dosennya bertaraf internasional, yang salah satu syarat minimalnya dosen-dosen tersebut sudah pernah mengajar di luar negeri. Selain itu, terdapat Internet yang menyebar di seluruh lingkungan kampus. Begitu pula TV, VCD, dan DVD harus ada di setiap kelas sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar. Tak ketinggalan pula, dalam penerimaan mahasiswa baru standar internasional diterapkan, seperti harus memiliki nilai TOEFL danTOAFL yang tinggi dan sebagainya.

Meski demikian bukan berarti PSW dan P2KM tidak mendukung proyeksi Reseach University ini. Setidaknya P2KM telah melakukan berbagai kegiatan yang menunjang terciptanya Reseach University misalnya launching Buku Komunikasi dan Media serta penerbitan Jurnal berskala riset internasional. Akan tetapi, tidak sedikit kendala yang dihadapi, seperti tidak tersedianya sarana dan prasarana, serta masalah klasik yakni keterbatasan dana.

Berbeda dengan Andi dan Tati, Dr. Jamhari Makruf, Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) merasa optimis, dalam 4-5 tahun mendatang UIN Jakarta akan mampu menjadi salah satu dari sepuluh World Class University. Dengan catatan adanya dukungan dan mimpi bersama dari semua pihak yang terlibat di dalamnya. “Mimpi adalah modal utama dalam mempersiapkan diri menuju World Class University. Lihatlah UIN Jakarta sekarang, berbeda jauh sekali dengan yang dulu. Semua kemajuan ini berawal dari mimpi seorang Rektor UIN (Azra-red) yang ingin mengubah institusi pendidikannya menjadi lebih baik,” tandas orang nomor satu di PPIM itu ketika ditemui INSTITUT di kantornya. Selain itu, Jamhari juga menyebutkan bahwa barometer sebuah institusi pendidikan layak menyandang predikat World Class University, jika terbitan tulisan-tulisannya menjadi rujukan bagi akademisi di seantero dunia. Berkaca dari universitas-universitas kelas dunia seperti Oxford, Mc.Gill dan sebagainya. Mereka saling berlomba memenangkan nobel hasil riset atau penelitian universitas masing-masing. Hal ini, lanjut Jamhari, menunjukan bahwa nobel dan jurnal-jurnal ilmiah yang diterima dunia dapat menjadi barometer universitas bertaraf internasional.

Berbeda dengan Jamhari, Dr. Agus Susanto, MSi mempunyai kriteria lain tentang Universitas riset. Ditemui INSTITUT di kantornya, Direktur Pusbangsitek (Pusat Pengembangan Sains dan Teknologi) ini mengutarakan beberapa syarat utama menjadi Reseach University diantaranya; kuota tenaga pengajar masing-masing fakultas terdiri dari minimal lima puluh dosen bergelar Doktor. Selain itu, anggaran untuk keperluan riset harus mencapai 60%. Sedangkan rata-rata di fakultas umum UIN Jakarta saat ini anggaran tersebut baru terealisasi sebanyak 7%.

Syarat selanjutnya, kurikulum yang diterapkan harus menggunakan kurikulum berbasis internasional, yang mana 70% mata kuliah berupa praktek, selebihnya teori. Selama ini fakultas-fakultas umum belum berani mencobanya dan masih menggunakan kurikulum yang ditetapkan Departemen Agama, di mana banyak sekali kurikulum lokal yang harus dimasukan sehingga untuk praktek sendiri hanya mendapat bagian beberapa persen saja. Sehingga, UIN Jakarta di tahun 2010 belum mampu meraih predikat itu.

Disinggung tentang riset-riset untuk fakultas agama, Agus mengatakan sudah cukup baik, karena riset yang dilakukan fakultas agama merupakan riset sosial yang tidak terlalu membutuhkan banyak biaya dan peralatan yang mahal. Dan di kampus kita (UIN Jakarta-red) sudah cukup banyak tenaga ahli dalam bidang riset ini. Namun riset untuk fakultas umum masih sangat jauh dari harapan. Meskipun peralatan yang ada sudah cukup memadai, tetapi SDM yang kita punya masih sangat kurang. Agus Susanto sendiri berharap kedepan UIN bisa membangun hubungan dengan lembaga-lembaga umum seperti Pertamina dan sebagainya, agar riset-riset yang kita lakukan bisa lebih berkembang dengan baik.

Saat ini Pusbangsitek sedang mempersiapkan pelatihan (Analisis Masa dan Dampak Lingkungan) AMDAL. Pengolahan lingkungan, memberi informasi teknologi kepada masyarakat dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan saint dan teknologi. “Memang kita harus punya mimpi untuk bisa menjadi yang terbaik. Bahkan mimpi yang kita punya haruslah setinggi-tingginya. Akan tetapi, jika mimpi itu tidak disertai dengan langkah yang pasti menuju ke arah sana. Serta target yang ditentukan haruslah realistis dengan memperhatikan sarana dan prasarana serta SDM yang ada. Tanpa itu semua Slogan World Class University atau Reseach University hanyalah mimpi yang menjadi pembohongan publik”, tegas mengakhiri pembicaraannya.

Sayangnya, dalam menuju cita-cita tersebut, lembaga struktural maupun non-strukturtal di kampus ini, misalkan Lemlit, Lembaga pengabdian masyarakat, ICCE, CLTD, PPSDM, Pusbangsistek, Pusat Bahasa dan Budaya (PBB), PPIM, PSW, CSRC dan masih banyak lagi, hanya berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang baik dengan lembaga yang ada. Dan terkesan mencari dana sendiri dan untuk kepentingan sendiri, terkesan menumpang “parasit” buat kampus. Padahal tidak memberikan kontribusi terhadap perkembangan UIN Jakarta. Hal ini di amini Chaidier S. Bamualim, Direktur Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) “Betul, kita jalan sendiri-sendiri, belum representatif UIN, bagaimana peran lembaga penelitian yang ada,” tandasnya di ruang kerjanya. Dia juga menyarankan untuk menuju universitas riset harus didukung dengan anggaran yang besar. Lembaganya juga siap dilibatkan atau dibutuhkan untuk merumuskan kerangka praktikal untuk menuju universitas riset yang belum ada. Baginya, untuk menciptakan peneliti muda, harus distimulus dengan memberikan dan membudayakan budaya riset, dan inilah tugas utama dari lembaga penelitian UIN Jakarta (Lemlit) yang ada. [Ali, Rose, Denhas, Dwi, MS Wibowo, Zaki, Roso]

Iklan

November 11, 2006 Posted by | BULETIN | 5 Komentar