LPM INSTITUT

BACA, TULIS, LAWAN!

Blog nya pindah ke dot com

pengen ngasih tau aja kalau blog LPM INSTITUT dah jadi dot com and officially move to it. sambil proses optimasi dan design masih kurang bekerja. so sering sering main ke LPM INSTITUT yang dah punya blog dot com yaa

sebenernya sih cara gampangnya tinggal apus blog yang ini. tapi kenangan tetap harus dikenang. lagipula belum export isi yang disini ke LPM sono. hehehe dah dulu yaa sekedar posting buat informasi aja kenapa blog ini nggak pernah diupdate lagi.

Juni 30, 2008 Posted by | 1 | 3 Komentar

Ulang tahun LPM yang ke-23

banner-lpm-institut2.jpg

Untuk menyambut Ulang tahun LPM INSTITUT yang ke-23 LPM mengadakan Workshop Pembuatan Blog dan Jurnalisme Online pada tanggal 27 Desember 2007 di Aula Madya Lantai 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Informasi lebih lengkap dapat anda lihat di INSTITUT di BLOGGER

Desember 13, 2007 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar

International Office, Jendela UIN Menuju Internasional

UIN Jakarta telah membuka kantor internasional (international office). Lembaga baru di bawah koordinasi Pembantu Rektor Bagian Pengembangan Kelembagaan ini diproyeksikan menjadi jendela UIN menuju dunia internasional. Apa latar belakang pendiriannya dan program apa yang akan menjadi prioritasnya. Untuk mengetahuinya, Moh. Hanifudin Mahfuds dari UINJKT Online Senin lalu (28/8) berhasil mewawancarai Head of International Office, Andi Faisal Bakti PhD.

Apa yang melatarbelakangi didirikannya International Office?

International office didirikan seiring dengan proyeksi UIN Jakarta untuk menjadi Research University menuju World Class University. Untuk mencapainya harus terus meningkatkan kualitas. Kemudian kualitas itu harus didukung dengan sejauh mana aktivitas internasional kita, baik yang sifatnya in put maupun out put. Artinya dunia internasional yang datang ke sini (UIN Jakarta) baik sebagai mahasiswa, dosen, insinyur, maupun tamu asing yang mau riset atau bekerjasama dengan UIN Jakarta, maupun kita yang mengirim mahasiswa, dosen yang mau belajar atau riset ke luar negeri.
Itu saya pikir landasan berfikirnya. Sebenarnya sudah banyak international student yang belajar di UIN Jakarta. Untuk mereka kita ingin membantu mereka seperti mengerjakan visa, passport, perizinan, dan lainnya. Karena itu kita perlu lembaga ini.

Status kelembagaan International Office seperti apa?

International Office sesuai dengan SK pendiriannya berkedudukan sebagai lembaga struktural yang bertanggungjawab langsung ke rektor, melalui koordinasi Purek Bidang Kelembagaan. Dengan status itu, maka sumber pembiayaannya berasal dari kampus. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan jika lembaga kami bekerjasama dengan lembaga-lembaga donor internasional.

Sebenarnya apa tujuan awal dibentuknya International Office?

Untuk mempromosikan UIN Jakarta ke dunia international. Mulai dari mahasiswa, dosen, hingga karyawannya. Kita ingin mempromosikan keunggulan UIN sebagai universitas yang layak dijadikan partner dalam mengembangkan perguruan tinggi. International office juga akan menjadi pintu bagi civitas akademika UIN Jakarta yang ingin melanjutkan kuliah atau kursus di luar negeri. Sebagai jendela UIN Jakarta menuju dunia internasional.

Di samping itu, lembaga ini juga diharapkan untuk menindaklanjuti atau mengimplementasikan berbagai nota kerjasama atau memorandum of understanding (MoU) antara UIN Jakarta dengan berbagai lembaga baik nasional maupun international. MoU itu kini telah menumpuk, tapi tidak ada yang menindaklanjuti. Nah, kami international office ingin menjadi lembaga yang mengimplementasikan berbagai kerjasama yang telah dijalin UIN Jakarta.

Struktur kepengurusan International Office seperti apa?

Selain saya sebagai kepala lembaga, ada sekretaris yaitu Kusmana MA. Kemudian kami terbagi ke dalam empat divisi. Pertama, divisi informasi dan promosi yang dikoodinir oleh Siti Napsiah, MSW. Kedua, konseling yang arahnya kita akan membentuk international student services di situ akan ada internet akses. Di situ juga kita bisa share dengan mahasiswa dari berbagai negara. Sebetulnya di Barat itu ada satu building besar. Dan saya berharap di student center itu ada yang bisa kita akses satu lokal atau dua lokal khusus untuk internasional student itu.

Ketiga, divisi collaboration and networking, yang ini khusus untuk melakukan kerjasama dengan institusi-institusi asing atau luar negeri untuk pengembangan universitas ini. Kini kita sudah ada banyak sekali MoU-MoU yang belum diimplementasikan. Keempat, accomodation and immigration. Kita menyediakan asrama untuk mereka. Sekarang sudah ada 30 mahasiswa Malaysia dan beberapa mahasiswa Afrika Selatan yang ditempatkan di asrama. Di sana mereka bisa berkonsentrasi belajar.

Bagaimana dengan program pertukaran mahasiswa atau dosen?

Untuk program itu kita juga akan fasilitasi. Jika ada kesempatan kita akan mempublikasikan melalui plamfet serta brosur di student center, fakultas dan tempat publik lainnya. Mahasiswa yang memiliki kualifikasi sesuai dengan yang disyaratkan akan kita bantu. Yang jelas target kami, kita harus menempatkan calon-calon yang terbaik.

Sebenarnya apakah di universitas lain ada International Office?

Kalau universitas di luar negeri rata-rata mempunyai international office yang memang untuk memanage dan membantu mahasiswa-mahasiswa internasional, dosen-dosen internasional dan peneliti-peneliti internasional. Kita ingin memberikan pelayanan yang maksimal dan sebaliknya orang-orang kita yang Islam dan pegawai serta peneliti professor yang akan ke luar negeri difasilitasi seperti surat izn dan sebagainya.

Program apa yang paling mendesak?

Menurut saya, hal yang paling mendesak, saya ingin mengurus mahasiswa internasional. Dan juga mengimplementasikan MoU-MoU. Dalam waktu dekat ini akan melakukan workshop dan juga sosialisasi. Kemudian tentunya ada kegiatan-kegiatan masing-masing divisi ini dan kita juga akan melakukan talkshow, kunjungan ke beberapa kantor kedutaan, media dan international school. Secara akademik, kita juga akan membantunya seperti kuliah yang mereka ambil, tentang ujian baik UTS atau UAS, mungkin juga kelebihan dalam berbahasa, kemudian.

Di UIN Jakarta telah banyak lembaga atau pusat studi, tapi banyak yang tidak berjalan. Bagaimana dengan lembaga yang Anda pimpin?

Lembaga kami sesuai dengan misinya akan mengurusi international student dan kerjasama international. Jadi lembaga kami akan banyak berperan. Dalam beberapa bulan ke depan semoga program-programnya sudah bisa berjalan.

Agustus 31, 2007 Posted by | Tak Berkategori | 3 Komentar

Universitas Riset Hanya Mimpi

Kampus UIN, INSTITUT- Gaung universitas riset yang dicanangan UIN Jakarta telah terdengar di kampus ini. Sejak empat tahun yang lalu, slogan itu terpampang di kampus ini. Entah benar-benar telah merasa mampu atau hanya karena tak mau kalah adu gengsi dengan kampus lain di Indonesia, yang juga punya program serupa, sehingga tahun 2010 UIN Jakarta dengan publikasi yang terpampang di balihonya merasa optimis akan mencapai target tersebut, meskipun dengan mimpi.

Namun jika kita mencoba menengok kembali keberadaan UIN Jakarta saat ini, rasanya rencana itu masih jauh dari realita yang ada. Dalam arti pada tahun yang ditentukan, kampus tercinta ini masih belum sanggup menjadi Universitas Riset sebagai implementasi dari World Class University. Mengingat minimnya sarana dan pra-sarana yang ada. Terlebih SDM kampus Islam ini masih sangat kurang memadai. Sebagaimana diungkapkan oleh Dra. Tati Hartimah, MA selaku ketua Pusat Studi Wanita (PSW), sebuah lembaga non-struktural UIN Jakarta yang bergerak di bidang kajian sosial dan keislaman yang berwawasan gender. Dalam komentarnya, Tati mengatakan bahwa untuk menjadi universitas riset, UIN Jakarta masih jauh dari kesiapan. Selain itu, untuk menuju kearah itu, dibutuhkan SDM yang berkualitas, program mengajar yang berbasis riset serta diiringi perilaku manajemen yang rapih. Kita juga harus sadar diri, bagaimana SDM dan manajemen kita saat ini.

Sementara itu Andi Faisal Bakti, Ph.D, pakar komunikasi sekaligus ketua Pusat Pengkajian dan Komunikasi (P2KM). Salah satu lembaga non-struktural Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Mengatakan hal serupa, menurutnya UIN Jakarta untuk masa sekarang masih jauh dari layak untuk menjadi universitas riset idaman itu. Andi juga menambahkan, universitas riset harus mempunyai perpustakaan dan laboratorium yang berstandar internasional. Dosen-dosennya bertaraf internasional, yang salah satu syarat minimalnya dosen-dosen tersebut sudah pernah mengajar di luar negeri. Selain itu, terdapat Internet yang menyebar di seluruh lingkungan kampus. Begitu pula TV, VCD, dan DVD harus ada di setiap kelas sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar. Tak ketinggalan pula, dalam penerimaan mahasiswa baru standar internasional diterapkan, seperti harus memiliki nilai TOEFL danTOAFL yang tinggi dan sebagainya.

Meski demikian bukan berarti PSW dan P2KM tidak mendukung proyeksi Reseach University ini. Setidaknya P2KM telah melakukan berbagai kegiatan yang menunjang terciptanya Reseach University misalnya launching Buku Komunikasi dan Media serta penerbitan Jurnal berskala riset internasional. Akan tetapi, tidak sedikit kendala yang dihadapi, seperti tidak tersedianya sarana dan prasarana, serta masalah klasik yakni keterbatasan dana.

Berbeda dengan Andi dan Tati, Dr. Jamhari Makruf, Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) merasa optimis, dalam 4-5 tahun mendatang UIN Jakarta akan mampu menjadi salah satu dari sepuluh World Class University. Dengan catatan adanya dukungan dan mimpi bersama dari semua pihak yang terlibat di dalamnya. “Mimpi adalah modal utama dalam mempersiapkan diri menuju World Class University. Lihatlah UIN Jakarta sekarang, berbeda jauh sekali dengan yang dulu. Semua kemajuan ini berawal dari mimpi seorang Rektor UIN (Azra-red) yang ingin mengubah institusi pendidikannya menjadi lebih baik,” tandas orang nomor satu di PPIM itu ketika ditemui INSTITUT di kantornya. Selain itu, Jamhari juga menyebutkan bahwa barometer sebuah institusi pendidikan layak menyandang predikat World Class University, jika terbitan tulisan-tulisannya menjadi rujukan bagi akademisi di seantero dunia. Berkaca dari universitas-universitas kelas dunia seperti Oxford, Mc.Gill dan sebagainya. Mereka saling berlomba memenangkan nobel hasil riset atau penelitian universitas masing-masing. Hal ini, lanjut Jamhari, menunjukan bahwa nobel dan jurnal-jurnal ilmiah yang diterima dunia dapat menjadi barometer universitas bertaraf internasional.

Berbeda dengan Jamhari, Dr. Agus Susanto, MSi mempunyai kriteria lain tentang Universitas riset. Ditemui INSTITUT di kantornya, Direktur Pusbangsitek (Pusat Pengembangan Sains dan Teknologi) ini mengutarakan beberapa syarat utama menjadi Reseach University diantaranya; kuota tenaga pengajar masing-masing fakultas terdiri dari minimal lima puluh dosen bergelar Doktor. Selain itu, anggaran untuk keperluan riset harus mencapai 60%. Sedangkan rata-rata di fakultas umum UIN Jakarta saat ini anggaran tersebut baru terealisasi sebanyak 7%.

Syarat selanjutnya, kurikulum yang diterapkan harus menggunakan kurikulum berbasis internasional, yang mana 70% mata kuliah berupa praktek, selebihnya teori. Selama ini fakultas-fakultas umum belum berani mencobanya dan masih menggunakan kurikulum yang ditetapkan Departemen Agama, di mana banyak sekali kurikulum lokal yang harus dimasukan sehingga untuk praktek sendiri hanya mendapat bagian beberapa persen saja. Sehingga, UIN Jakarta di tahun 2010 belum mampu meraih predikat itu.

Disinggung tentang riset-riset untuk fakultas agama, Agus mengatakan sudah cukup baik, karena riset yang dilakukan fakultas agama merupakan riset sosial yang tidak terlalu membutuhkan banyak biaya dan peralatan yang mahal. Dan di kampus kita (UIN Jakarta-red) sudah cukup banyak tenaga ahli dalam bidang riset ini. Namun riset untuk fakultas umum masih sangat jauh dari harapan. Meskipun peralatan yang ada sudah cukup memadai, tetapi SDM yang kita punya masih sangat kurang. Agus Susanto sendiri berharap kedepan UIN bisa membangun hubungan dengan lembaga-lembaga umum seperti Pertamina dan sebagainya, agar riset-riset yang kita lakukan bisa lebih berkembang dengan baik.

Saat ini Pusbangsitek sedang mempersiapkan pelatihan (Analisis Masa dan Dampak Lingkungan) AMDAL. Pengolahan lingkungan, memberi informasi teknologi kepada masyarakat dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan saint dan teknologi. “Memang kita harus punya mimpi untuk bisa menjadi yang terbaik. Bahkan mimpi yang kita punya haruslah setinggi-tingginya. Akan tetapi, jika mimpi itu tidak disertai dengan langkah yang pasti menuju ke arah sana. Serta target yang ditentukan haruslah realistis dengan memperhatikan sarana dan prasarana serta SDM yang ada. Tanpa itu semua Slogan World Class University atau Reseach University hanyalah mimpi yang menjadi pembohongan publik”, tegas mengakhiri pembicaraannya.

Sayangnya, dalam menuju cita-cita tersebut, lembaga struktural maupun non-strukturtal di kampus ini, misalkan Lemlit, Lembaga pengabdian masyarakat, ICCE, CLTD, PPSDM, Pusbangsistek, Pusat Bahasa dan Budaya (PBB), PPIM, PSW, CSRC dan masih banyak lagi, hanya berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang baik dengan lembaga yang ada. Dan terkesan mencari dana sendiri dan untuk kepentingan sendiri, terkesan menumpang “parasit” buat kampus. Padahal tidak memberikan kontribusi terhadap perkembangan UIN Jakarta. Hal ini di amini Chaidier S. Bamualim, Direktur Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) “Betul, kita jalan sendiri-sendiri, belum representatif UIN, bagaimana peran lembaga penelitian yang ada,” tandasnya di ruang kerjanya. Dia juga menyarankan untuk menuju universitas riset harus didukung dengan anggaran yang besar. Lembaganya juga siap dilibatkan atau dibutuhkan untuk merumuskan kerangka praktikal untuk menuju universitas riset yang belum ada. Baginya, untuk menciptakan peneliti muda, harus distimulus dengan memberikan dan membudayakan budaya riset, dan inilah tugas utama dari lembaga penelitian UIN Jakarta (Lemlit) yang ada. [Ali, Rose, Denhas, Dwi, MS Wibowo, Zaki, Roso]

November 11, 2006 Posted by | BULETIN | 5 Komentar